Kamis, 21 Februari 2019

Sebuah Catatan Imaginer

OGS - gambar dari Getty
Besok akan menjadi pembuktian, selama ini mereka semua sepertinya masih meragukan kemampuanku, kemampuan kita, sebagai pelatih, sebagai pemain maupun sebagai sebuah tim. 
Aku sebenarnya tidak terlalu berambisi, untuk duduk di sini, memegang kendali penuh, namun hatiku tak bisa dibohongi, cintaku takkan pernah berpaling, dari tempat ini, dari klub ini. Aku yang pernah menjadi bagian sukses klub ini, menjadi seorang pemain, sekarang sudah diberikan kesempatan menjadi seorang pelatih, bagiku ini bukan hanya sekedar pekerjaan. Aku merasa ini jalan hidupku, takdirku, rumahku. 
Aku percaya, kesuksesan adalah jalan, tujuanku sudah ditetapkan sejak awal, untuk sepenuhnya mendukung dan mencintai klub ini. 

OGS, 2019 
Malam sebelum menghadapi PSG di Old Trafford.



Senin, 18 Februari 2019

Ide = Seongok Kayu



Ide adalah sesuatu yang sangat berharga. Menjadi awal untuk membuat sebuah tulisan. Kita tidak usah menilai tentang hasilnya, tetapi dalam pikiranku, sebuah tulisan harus didasari oleh sebuah ide. Ide, baik atau buruk tetaplah ide. Seorang penulis yang sedang memiliki ide tidak akan menyia-nyiakan idenya itu, segera dituangkan sebelum lupa atau mengalami perubahan. Pada saat proses pengembangan ide nantinya akan mengalami penambahan atau pengurangan. Sah-sah saja, layaknya seorang pematung, ide adalah seongok kayu yang bagus untuk dibuat patung. Tidak mudah menemukan kayu yang bagus dan siap untuk dibuat menjadi patung. Layaknya pematung yang akan melakukan penambahan maupun pengurangan pada kayu yang akan dijadikannya patung, kurang lebih seperti itulah penulis meramu ide yang sudah didapatnya untuk dituangkan dalam tulisan yang sesuai dengan konsep yang ingin dibuatnya.
Ide adalah satu hal, mengolah ide menjadi tulisan yang baik adalah hal lainnya. Bahan kayu yang bagus bisa saja menjadi sia-sia di tangan pematung yang kurang cakap.
Tapi itu bukanlah persoalan utama. Yang paling utama adalah si pematung tetap bekerja dan belajar. Patung yang jelek tetaplah hasil karya. Patung yang jelek akan menjadi masalah kalau hal itu membuat si pematung berhenti berkarya.

Senin, 09 Juli 2018

MENULIS = MENGGAMBAR ?!



Menulis hampir mirip dengan menggambar. Menulis merangkai kata, menggambar merangkai bentuk, sama-sama ingin menyampaikan sesuatu, sama-sama berasal dari imajinasi dan pemikiran kita. 
Pada dasarnya, tidak ada penilaian baik-buruk, bagus-jelek karena setiap tulisan atau gambar mewakili imajinasi dan pemikiran penulis atau penggambar yang belum tentu bisa ditangkap oleh pembaca atau yang melihat gambarnya.
Mungkin tulisan atau gambar yang tidak kita sukai, menurut kita tidak sesuai, aneh hanya sedang menunggu waktu untuk dimengerti. Entah kapan.



Sabtu, 23 Juni 2018

PENGALIH NYERI

Entah karena luka ini, nyeri hasil operasi di tulang acromioclavicular membuat kembali tangan ini meraih pensil mencorat-coret lagi.

Rasa nyerinya tidak hilang, hanya teralihkan sebentar. Tak mengapa, hanya sebentar semoga selanjutnya membawa lelah dan kantuk.

Senin, 13 November 2017

CERITA SEBELUM TIDUR


Kembali teringat antara 19-20 tahun yang lalu, saat aku masih kecil. Ibu selalu bercerita sebelum aku terlarut dalam tidur di pelukannya. Beberapa cerita dari beliau masih terpatri sampai sekarang dalam ingatanku. Kebanyakan tentang cerita tradisional di Bali, dan saat itu aku selalu merajuk untuk selalu diceritakan kisah-kisah sebelum tidur itu walaupun cerita yang sama selalu diulang-ulang oleh Beliau. Sekarang, setelah aku ingat-ingat kembali, ternyata cerita-cerita tradisional Bali memiliki sisi keunikan tersendiri baik dari segi penokohan, alur, maupun gaya berceritanya terutama dalam cerita-cerita pengantar tidur saat aku masih kecil dulu. Kebanyakan cerita-cerita tersebut berupa fabel yang tokoh utamanya adalah binatang seperti : I Lutung (kera), I Kekua (kura-kura), Siap Selem (ayam hitam), Ketam (kepiting sungai), Macan, ataupun Meng Kuwuk (kucing). Namun tidak semua tokoh cerita dalam cerita tradisional Bali adalah binatang seperti salah satu tokoh cerita yang namanya sangat melegenda di Bali, Pan Balang Tamak. Berikut ini akan aku coba ceritakan kembali cerita yang biasa didongengkan oleh ibu sebagai pengantar tidur saat kecil dulu (mungkin berbeda versi cerita di tiap tempat, tapi versi inilah yang kudengar dari ibuku) :
I Lutung dan Kekua 
Pada suatu saat di sebuah hutan, I Lutung hanya termenung sendiri di atas pohon yang tampaknya sudah tidak berbuah lagi. Dia tampak bingung sendiri, entah musim apa saat itu yang telah membuat pohon-pohon buah yang menjadi sumber makanannya di hutan itu selama ini banyak yang tidak berbuah. Pohon yang dia naiki sekarang mungkin adalah pohon yang terakhir yang berbuah, karena dia sudah berkeliling sejak pagi untuk mencari pohon-pohon lain yang masih berbuah tetapi hasilnya nihil. Pohon itu terletak tepat di pinggir sungai, dari atas pohon itu, si Lutung dapat melihat di seberang sungai sana ada perkebunan milik Pak Tani yang pohon pisangnya sedang berbuah ranum. Bukan sekali ini Si Lutung menyadari ada makanan favoritnya di sana, cuma dia masih bingung mencari cara untuk sampai di seberang sungai itu. Air adalah sesuatu yang sangat Lutung hindari, sungguh serasa mustahil baginya untuk berenang menyeberangi sungai itu menuju pisang-pisang ranum   Pak Tani.