Kamis, 09 Mei 2019

Kita Semua Buruh

Kita semua adalah buruh. 
Pernah terpikirkan sebelumnya, kita semua adalah buruh. Saya bukan berbicara tentang pekerjaan, atau profesi, tapi tentang keberadaan kita sendiri. Kita adalah buruh atas apa yang kita perjuangkan, yang kita percaya, yang kita yakini. 
Merujuk pada pengertian buruh menurut wikipedia 
“Buruh adalah pekerja, worker, laborer, tenaga kerja atau karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainnya kepada Pemberi Kerja atau pengusaha atau majikan.[1]”
Pengertiannya memang dibatasi dalam dunia pekerjaan. Tapi kalau kita tanya lebih jauh, siapakah pemberi kerja? Siapa itu majikan?
Ketika kita memilih untuk  mengabdi, mempercayai, memperjuangkan sesuatu, entah itu berupa sebuah entitas, orang, kepercayaan, atau apa pun maka bisa dikatakan kita bekerja untuk sesuatu itu entah sesuatu itu berwujud ataupun tak berwujud. 
Presiden sebenarnya hanya “buruh” untuk rakyatnya, seniman kadang hanya “buruh” bagi idealismenya dalam berkarya. 
Dan rata-rata kita semua adalah “buruh cinta” 😊

Senin, 15 April 2019

Mengajar = Belajar





Mengajar itu membuat kita belajar. Paling tidak kita harus tahu tentang apa yang akan kita ajari. Untuk tahu kita harus belajar.
Uniknya, ketika kita mengajar, secara tidak langsung kita belajar kembali karena mengulangi apa yang sudah kita pelajari sebelumnya.
Bukankah begitu?

Selasa, 09 April 2019

Menghadapi Alien

Dini hari nanti (Waktu Indonesia), Manchester United akan menghadapi Barcelona. Betul, Alien itu adalah Lionel Messi. Manchester United (MU) baru saja kalah (lagi) oleh Wolverhampton, Barcelona? Sedang tancap gas, Messi-nya makin kinclong.
Apa yang MU punya untuk menghentikan Messi? Ashley Young? Peluang terbaik MU mungkin ada pada diri Ander Herrera. Tapi fakta sudah berbicara, Messi memang segalanya untuk Barcelona, tapi masih ada Suarez, Rakitic, dan Coutinho. Yang kemungkinan tidak main hanya Dembele. Itu pun hanya kemungkinan.
Ole Gunnar Solkjaer (OGS) sepertinya bukan orang yang pesimis, tapi sepertinya kalau meladeni Barcelona dengan mengandalkan Smalling - Jones, seperti biasa De Gea yang akan pontang-panting.
Barcelona, yang pertandingan terakhirnya menang 2-0 melawan Atletico Madrid, bukan tim sembarangan juga akan bertandang melawan MU, yang tentu saja baru kalah oleh Wolverhampton.

"Paaaaaaakkkkk", tiba-tiba istri Pak Djarot berteriak dari kamar mandi.
Pak Djarot terdiam sebentar, berharap istrinya berhenti memanggilnya, tapi rupanya tidak. Teriakannya semakin kencang.
Pak Djarot memutuskan berhenti membaca artikel tentang Liga Champions Eropa yang sedianya akan dimainkan nanti dini hari. Dia kepikiran tentang apa yang akan dilakukan Ole Gunnar Solkjaer saat menghadapi Messi.

Dengan agak tergopoh-gopoh Pak Djarot menuju kamar mandi, rupanya istrinya sedang berdiri tegak di dalam kamar mandi, sambil berkacak pinggang.
Masih dalam diam, tangan istrinya menunjuk ke arah kloset duduk, yang tampak kotor.
Muka istrinya terlihat masam.

"Peluang MU tampaknya berat melawan Barcelona, Bu," entah kenapa Pak Djarot mengatakan itu kepada istrinya.
"Iya tidak seberat membersihkan kamar mandi ini. Sekarang!"

Pak Djarot tidak banyak bicara, langsung diambilnya sikat closet. Dia ingin segera melanjutkan membaca artikel MU vs Barcelona. Satu-satunya cara adalah dengan segera membersihkan kamar mandi. Dengan cepat.
Pak Djarot tahu, peluangnya juga berat menghadapi alien yang satu ini.

Sabtu, 23 Maret 2019

Sebuah Tatanan Khayalan

Pak Djarot menggumam pelan, sambil dibantingnya buku bersampul putih tebal bertuliskan “Sapiens”. Buku tebal pertamanya sejauh ini, masih berbau rak toko buku, sampul plastiknya bahkan belum dibuang ditempat sampah, masih keleleran di samping kursi televisinya. Kursi televisi, begitu pak Djarot menyebut kursinya saban hari untuk menonton televisi, menonton gosip, berita-berita yang menurutnya hoax semua, sepak bola, tinju sampai kadang-kadang pak Djarot sendiri yang ditonton televisinya.
Seperti mendapat pencerahan, pak Djarot celingak-celinguk mencari orang rumah yang sejak tadi sepi-sepi saja. Djarot sudah pasti sedang sekolah, Dina juga. Berarti tinggal Bu Djarot yang sejak tadi sibuk di dapur. Mungkin sedang memasak.
Setelah menyeruput sisa kopi dinginnya, pak Djarot segera bangkit dari duduknya yang malas, ingin membagi “pencerahannya” kepada bu Djarot. Setelah membaca subbab Tatanan Khayalan dari buku putih Yuval Noah Harrari itu.
Sambil memperbaiki sarung, Pak Djarot nyeletuk di belakang bu Djarot yang tampak sibuk mencuci piring.
“Manusia itu ternyata makhluk yang suka mengkhayal ya Bu. Semua hal yang kita percayai dan anut selama ini adalah buah khayalan manusia juga,” gaya pak djarot seperti membuka kuliah umum.
Bu Djarot hanya terdiam, tangannya belum beranjak dari bak cuci piring, bahkan cenderung bergerak lebih cepat.
“Negara, perusahaan, undang-undang itu sebenarnya gak ada lho Bu, itu hanya buah khayalan manusia saja. Manusia selalu membutuhkan pegangan untuk mereka percayai dan anut, agar mereka bisa mengatur dirinya dan mengatur orang lain. Tapi sebenarnya tetap saja tidak semuanya bisa diatur,” pak Djarot mengatur nafas sebentar, sebenarnya sambil mengingat-ngingat lagi subbab yang baru dibacanya. Kebanyakan sudah dilupakan.
“Indonesia ini kan ada tho Pak?!,” tiba-tiba bu Djarot menyela.
“Entah berapa banyak darah, air mata, tubuh, harta dan jiwa yang dibutuhkan sampai saat Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masak bapak bilang itu khayalan, nyatanya ada kok,” bu Djarot hampir menyelesaikan bilasan piring terakhir.
Pak Djarot tersenyum penuh kemenangan, respon ini memang dia harapkan.
“Begini Bu, coba kita lihat lagi, negara itu siapa? Apakah presiden negara? Rakyat negara? Aparat itu negara? Tidak juga, kenapa ada undang-undang? Kenapa negara masih berdiri, ya karena kita-kita ini masih percaya, masih meyakini. Betul nggak? Coba kalau kita-kita ini tidak meyakini, tidak percaya, ya apa masih berdiri negara ini? Tatanan yang ada dalam benak manusialah yang membuat negara itu ada. Lha kita ini penduduk bumi semua kan? Tinggal di bumi semua kan? Kenapa ada banyak negara? Ya karena masing-masing kelompok besar yang disebut bangsa memiliki tatanan yang mereka percaya masing-masing, nilai-nilai yang disepakati bersama untuk menjadi satu dalam sebuah kesatuan yang mereka sebut bangsa. Sejak itulah muncul batas wilayah, lagu kebangsaan, bahasa negara, semua itu untuk melanggengkan konsep-konsep tentang tatananan yang sebenarnya tidak lebih dari khayalan manusia, betul nggak?”
Bu Djarot tersenyum sebentar. Pak Djarot ikut tersenyum puas, nampaknya Bu Djarot mulai mengerti maksud pembicaraannya. Jarang-jarang pak Djarot membaca buku, baru kali ini dia memaparkan pengetahuan yang telah ia dapat dari buku putih tebal itu.
Belum selesai pak Djarot mengagumi argumennya sendiri, bu Djarot tiba-tiba bicara, “Berarti konsep pernikahan pun juga hanya khayalan kita belaka ya Pak. Pernikahan itu langgeng sepanjang dua orang yang terikat di dalamnya meyakini dan mempercayainya. Boleh dibilang, pernikahan itu sebenarnya tidak ada, hanya konsep khayalan manusia. Tujuannya agar nanti mereka yang terikat bisa saling  merawat sampai tua, bisa melestarikan jenisnya, agar tidak kesepian. Itu saja kan?
Bapak memperoleh faedah dari pernikahan, minimal selalu ada secangkir kopi yang dihidangkan di pagi hari, tapi dari kenikmatan itu juga muncul kewajiban bapak kepada saya minimal memberikan uang untuk membeli kopi agar ada yang diseduh pagi-pagi untuk dihidangkan.”
Pak Djarot termenung sebentar.
“Nah suatu hal yang bapak sebut sebagai tatanan khayalan itu tidak bisa juga dianggap tidak ada, dia sama seperti pemikiran kita, yang tak kasat mata, tapi ada sepanjang kita masih berpikir. Bukan berarti tatanan khayalan itu abadi, tapi dia bisa berganti, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Saya cukup setuju dengan pernyataan bapak, bahwa selama kita percaya, meyakini, dan merawatnya, tatanan khayalan itu akan tetap langgeng.”
Tiba-tiba pak Djarot memotong penjelasan bu Djarot. “Sebentar Bu, ibu habis baca buku apa?”
Seingat pak Djarot istrinya seharian lebih banyak hanya di dapur saja.
Bu Djarot tersenyum lebih lebar. Kali ini dengan penuh kemenangan.
Dia hanya menjawab, “Kalau bapak mencari sesuatu yang nyata saat ini, itu rumput di halaman rumah sudah panjang, tidak terawat. Coba direnungkan lagi sambil memotong dan merapikan rumput itu.”
Pak Djarot kembali tersenyum.
Tanpa banyak bicara, berangkat ke gudang mengambil gunting rumput, bersiap-siap menghadapi kenyataan hari ini. ***

Senin, 11 Maret 2019

Belajar = Menyapu?!




Pernahkah anda menyapu? 
Bisakah kita mengumpamakan kegiatan belajar layaknya menyapu? 
Dikutip dari Sekar Alit, Pupuh Ginada :

Eda ngadèn awak bisa
depang anakè ngadanin
geginane buka nyampat
anak sai tumbuh luhu
ilang luhu bukè katah
yadin ririh liu enu paplajahan

Terjemahannya :
Jangan merasa diri pintar/hebat/mampu
Biar orang lain menilai/melihat
Hidup ibarat menyapu
Sampah ada selalu
Hilang sampah, debu beribu-ribu
Meski pintar, berjuta hal belum kau kenal

Di salah satu bagian disebut hidup ini seperti menyapu, tapi saya ingin membahasnya dalam kegiatan yang lebih spesifik yaitu belajar. 
Apa yang perlu kita lakukan sebelum belajar? Kosongkan diri. 
Mengosongkan diri bentuk nyatanya adalah jangan pernah merasa sudah bisa/ahli/mampu. Sekali rasa itu sudah muncul, kegiatan belajar belum bisa kita mulai.
Kemudian, ada bagian, biarkan orang menilai. Cukup menilai saja, jangan biarkan mempengaruhi semangat untuk belajar lebih jauh lagi. Penilaian orang hanya kita dengar/ambil untuk perbaikan diri.
Selanjutnya, menurut saya baris ini adalah intinya, layaknya menyapu. 
Coba bayangkan saat kita menyapu. Bayangkan saat menyapu lantai dalam rumah. Kadang kita merasa tidak ada debu atau sampah yang kita sapu, tapi toh tetap kita sapu, tapi lama-lama setelah berjalan lama, ternyata ada yang kita sapu. Mirip seperti belajar, kadang kita berpikir, hal yang kita pelajari apakah akan berguna? Atau malah apakah ada yang sebenarnya kita pelajari? Jawabannya, pasti ada. Bahkan saat kita belajar sesuatu yang salah, minimal kita tahu bahwa setelah melanjutkan belajar dan mengaplikasikannya yang kita pelajari adalah hal yang salah. 
Awal dari baris ini, yaitu jangan pernah merasa bisa, ditegaskan lagi di bagian akhir baris, meski pintar, banyak sekali hal yang belum kita pelajari. Sama seperti menyapu. Menyapu kalau kita lihat lagi adalah pekerjaan yang tidak akan pernah selesai, jangankan besoknya, 5 menit setelah kita merasa telah menyapu, sampahnya sudah kita bersihkan, ternyata masih ada debu tidak kelihatan yang berhamburan. Sama dengan ilmu atau pelajaran, tidak akan pernah habis. 
Kalau kita sudah menyadari itu, siapapun yang berilmu seharusnya selalu bersikap rendah hati, karena dia memahami, masih banyak ilmu yang belum dia ketahui, layaknya menyapu, masih banyak kotoran yang menunggu untuk dibersihkan. Masih banyak ilmu yang nenunggu untuk dipelajari.