Kecil saya dulu pas SD, ada seorang teman kami, namanya I Wayan Sudarma, ayahnya seorang buruh tani, merangkap sebagai pengurus ternak, rumahnya berdinding anyaman bambu di tengah-tengah tegalan, sebuah tegalan di tengah rimba aspal yang mulai mengancam tempat kami.
Sudarma, begitu kami memanggilnya, tergambar senyumnya yang tulus tiap kali namanya kami panggil, sungguh pribadi anak berwatak ulet yang tak pernah kenal lelah. Buku catatannya yang tercampur, yang selalu dia selipkan di selipan celana merah SD di belakang punggungnya itu, kami tahu dia bukan sedang bergaya, kami sudah mengerti itulah salah satu buku yang dapat dia manfaatkan sebagai catatan. Sudarma tidak seberuntung kami yang bisa mencatat masing-masing pelajaran dalam buku-buku yang berbeda, dia juga tidak semujur saya yang ada seragam putih merah lebih dari dua setel, namun begitu Sudarma jarang sekali menolak ajakan kami main benteng-bentengan pas jam istrahat, dan kami tahu dia masih mengenakan setelan yang sama untuk hari-hari berikutnya walaupun telah lusuh oleh keringat.
Sudarma bukanlah yang terpintar, dan kami tahu dia kadang-kadang tidak mengerti juga dengan materi pelajaran, namun kami tahu fisiknya melebihi kami. Badannya ditempa setiap hari ketika membantu ayahnya mencari rumput untuk sapi peliharaannya, Sudarma sangat ahli menggunakan cangkul, sabit, dan alat kerja lainnya. Saat kami takut tangan melepuh mengayunkan cangkul, dia dengan senyum tulusnya menunjukkan pada kami bagaimana seharusnya cangkul itu digunakan. Tangannya sangat lihai ketika mengarit rumpu-rumput liar di kebun sekolah kami.
Kadangkala nama Sudarma muncul di papan absen kami, menggantikan Nihil. Kami tahu bukan maunya dia seperti itu, kami tahu bahwa kadang-kadang ayahnya sakit, dan dialah yang menemeni ayahnya yang sakit dan merawatnya.
Sampai saat itu datang, ketika dengan penuh rasa ragu Sudarma ingin bercerita, namunn ceritanya selalu tertahan. Ceritanya terkait erat dengan kelanjutannya dia bersekolah, kami sungguh bodoh, tidak bisa memahami maksudmu. Entah kenapa kami baru mengerti ketika datang hari-hari dimana kamu tidak datang ke sekolah lagi, bahkan saat namamu sudah tidak ada dalam daftar absen kelas lagi.
Tribute to I Wayan Sudarma, di mana pun engkau kini. Kami yakin kamu jauh lebih hebat daripada kami.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Minggu, 14 April 2013
Jumat, 22 Februari 2013
Sejenak Siang
Tampak dengan tenang, anak tersayang masih melonjak-lonjak girang. Sang Kakek mengejar-ngejar penuh senyum, Ibu masih berkutat dengan belenggu emasnya. Ketika Si Bapak menuju luar kota bertugas, sekelebat ingatannya tetap lekat membayang, akan rumah di sana yang kecil nan hangat.
Pasuruan, Jumat Siang Ini
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Pasuruan, Jumat Siang Ini
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Kamis, 23 Agustus 2012
Twitter?!
Twitter, sebuah fenomena, sebuah pembatasan yang juga bisa menjadi keleluasaan. 140 karakter yang terlalu sedikit atau malah terlalu banyak untuk menyampaikan, menanyakan, menyatakan, curhat, menginformasikan, memanggil, me-mention, menghujat, mengingatkan, mempromosikan, dsb sesuatu kepada pihak lain, follower, atau malah tidak ditujukan untuk siapa pun. Pendeknya 140 karakter bisa disiasati dengan mem-posting link yang terhubung ke tulisan yang lebih panjang atau bila 140 karakter terlalu banyak kita bisa benar-benar berkicau dengan 4 huruf saja atau kurang semacam sigh yang menandakan kegetiran penuh misteri :) Seperti lambangnya yang mengambil simbol seekor burung, kicauan burung kadang tidak dipedulikan, kadang dianggap biasa saja, dan terkadang pula dianggap sangat luar biasa oleh pendengarnya (follower-nya). Beberapa user mengganggap tingkat kepuasan dalam menggunakan twitter bisa diukur dari seberapa banyak jumlah follower, seberapa banyak yang me-replay, me-retweet, meng-quote atau mungkin seberapa besar pengaruh yang bisa diberikan kepada user yang lain dengan tolok ukur sesuatu yang disebut trending topics.
Belakangan ini, twitter bagi saya merupakan semacam kilasan pemikiran tiap-tiap user yang saya follow, tentunya yang saya follow dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang saya follow karena sangat informatif, teman, buzzer, inspiratif, lucu, dan harus diakui kadang-kadang saya juga membutuhkan sesuatu yang saya sebut junk-info yaitu suatu info yang saya persamakan dengan junk-food, rasanya sangat enak namun nilai gizinya masih dipertanyakan bahkan kalau over bisa memberi pengaruh yang negatif. Info-info remeh temeh seperti naik apa seorang artis pergi mudik kadang perlu untuk menjadi selingan informasi yang sangat bergizi seperti keberhasilan para ilmuwan mengidentifikasi partikel Tuhan (High Bosson) (maaf kalau salah ketik) yang menghebohkan dunia persilatan itu. Sedikit tambahan untuk partikel Tuhan ini, saya lebih condong menggunakan kata "mengidentifikasi" daripada "menemukan" karena dalam opini saya (IMHO) partikel ini sebenarnya sudah ada dari dulu, cuma kita manusia dengan segala keterbatasannya baru dapat membuktikan keberadaannya melalui berbagi percobaan dan penelitian yang membutuhkan kerja keras, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Bagi saya, twitter juga kadang bisa menjadi katalis bagi user-nya, bagaimana saya menjadi begitu tergugah untuk menulis tentang sepak bola begitu membaca kicauan salah satu akun yang ulasan sepak bolanya bagi saya bagitu WOW, bagaimana saya serasa menjadi begitu bijak dan kadang seperti tersadar membaca kicauan akun yang lain melalui quote andalannya. Begitu terhibur, kadang geram, kadang sedih, kadang menjadi ingin tahu, kadang menjadi malah tak mau tahu. Apa kira-kira yang membuat hal ini bisa terjadi pada para pecandu twitter?
Tulisan? Bukankah tulisan tidak hanya ada di twitter, tulisan yang memberikan informasi bisa kita dapatkan di mana saja, melalui koran, surat, buku, dan media informasi lainnya.
Faktor 140 karakterkah? Keterbatasan membuat kreativitas meningkat? Begitu dibatasi, manusia umumnya secara naluriah akan berusaha mensiasati keterbatasan itu, keterbatasan jumlah huruf/karakter disiasati dengan menulis sesuatu yang benar-benar ingin disampaikan dalam 140 karakter menjadi semenarik dan sepadat mungkin, jaman yang serba praktis mungkin begitu sibuknya sehingga membaca sesuatu yang pendek namun benar-benar 'berisi' terasa sangat mengasyikkan.
Faktor bahwa setiap hal yang di-posting bisa dibaca oleh siapa saja? Diary, mungkin hanya kita saja yang tahu seperti agenda maupun catatan atas kegiatan harian, namun apa rasanya ketika setiap hal yang kita tulis atau sampaikan bisa dibaca oleh siapa saja di seluruh penjuru dunia yang telah dirangkul oleh internet? Menegangkan bukan? Hal ini kadang membuat orang sangat berhati-hati dalam menulis atau malah membuat orang menjadi exhibitionist yang dengan tanpa rasa canggung menulis apa pun yang dirasakan, dilakukan, didengar, dilihat, dimakan, diminum, atau dipikirkan tanpa mencerna baik-baik apa yang akan ditulis tidak hanya untuk para follower-nya tapi kepada siapa saja yang mungkin membaca.
Yah mungkin masih banyak faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan pengguna twitter untuk setia meng-update kicauannya, namun apa pun itu, mengutip sebuah bingkai kata-kata di tembok kelas saya waktu SMP dulu "Words are sharper than Swords", bagi saya penggunaan twitter untuk kepentingan apapun harus tetap bertanggungjawab sehingga tidak menjadi penyesalan di kemudian hari. Kata-kata (tweet-tweet) yang telah terucap (ter-posting) mungkin masih bisa ditarik (di-delete) namun akan selalu membekas bagi yang mendengarnya (membacanya) seperti paku-paku yang tertancap pada sebatang kayu, bisa kita cabut namun bekas tancapannya akan tetap ada pada kayu itu.
Lets's tweet again
#kantormasihsepi
#suasanalebaran
Rabu, 22 Agustus 2012
Pecel Perak
Semenjak bertugas di Perak, ada satu pedagang nasi pecel yang berjualan di seputaran Tanjung Perak yang menjadi langganan saya. Kira-kira berlangganan aktif semenjak periode 2008-2010, kemudian akhirnya terhenti setelah dipanggil lagi mengikuti pendidikan di Jakarta pada awal 2010. Ibu penjual pecel itu menjual nasi pecelnya yang digelar di atas meja, jadi tempat berjualannya tidaklah permanen. Buka mulai sekitar jam 6 pagi dan biasanya sudah habis gak sampe dalam waktu 2 jam setelahnya. Nasi pecel beliau ini menjadi sarapan wajib saya hampir tiap harinya dulu pada waktu masih bujang. Walaupun sederhana, tapi nasi pecelnya mantap sekali, serius?!. Harganya berkisar antara 5rb-7rb (tergantung pilihan lauknya). Ada sambalan gitu, pake terong rasanya maknyus abis, tempenya crunchy, telur dadarnya smooth, bumbu pecelnya pas tidak kemanisan ataupun keenceran, pokoknya mantap jaya.
Saking seringnya beli sarapan di sana, ibu penjual pecel sampai hapal wajah saya, walaupun tidak mengenal nama saya. Seringkali mendapat fasilitas khusus, entah kenapa ibu penjual itu selalu mendahulukan saya, seramai apapun, begitu lihat saya mau membeli, seperti sudah otomatis langsung membungkuskan satu porsi nasi pecel untuk saya padahal masih banyak pelanggan lain yang antri. Ibu itu selalu berpikir kalau saya tidak didahulukan nanti saya bisa terlambat masuk kantor (baik banget kan...), dan dia selalu ngomong ke pelanggan lain yang antri ketika mendahulukan saya "Mas ini (saya) akan berangkat ke kantor, jadi saya dahulukan ya biar dia gak telat ke kantor..". Sebenarnya gak enak hati juga dengan pelangggan yang lain, tapi mau nolak juga gimana karena saya sudah punya standar menu yang dipesan, jadi ya pesanan itu sudah disesuaikan dengan kebutuhan saya yang kalaupun ditawarkan pada pelanggan yang lain biasanya minta ditambah apa gitu, tambah tempe, tambah sambel atau kerupuk. Pokoknya seleranya beda-bedalah tiap pelanggan.
Tak terasa mungkin sudah hampir 3 tahun tidak belanja sarapan pecel di ibu pecel perak itu lagi. Tapi tadi pagi tiba-tiba teringat betapa mantabnya sarapan pake nasi pecel itu, akhirnya sengaja gak sarapan di rumah untuk sekedar mengobati kerinduan nikmatnya nasi pecel perak itu. Dari kejauhan saya lihat ternyata pelanggannya sudah ramai, wah semoga saja belum kehabisan. Motor saya parkir sekenanya dengan masih memakai helm dan masker yang menutupi mulut saya lanngsung turun dan ikut mengantre (ramai banget!! posisi wajah masih tertutup masker dan memakai helm). Si ibu penjual pecel cuma sempat melirik saya sebentar, saya sieh diem saja, yakin dia gak bakal mengenali saya, eh tiba-tiba dia gak lama langsung buatin satu porsi yang ternyata disiapkan untuk saya. Padahal baru ngomong "Bungkus satu, bu." dan masih ada pelanggan lain yang sepertinya sudah antri sejak tadi. Waduh, jadi gak enak juga nieh, gak jadi deh buka helm dan masker, tapi ibu penjual pecel kok kayanya tahu kalau saya nieh (pelanggan lama yang setia) yang mesen. Paling gak udah lewat 3 tahun padahal saya tidak sarapan nasi pecel buatan beliau lagi.
Amazing... Ibu-ibu penjual pecel ini punya kemampuan cenayang mungkin :)
Senin, 20 Agustus 2012
Pelajaran Bahasa Indonesia
Dulu waktu jaman masi SD kalo pas musim-musim ulangan umum, ada satu mata pelajaran yang menurut saya ajaib, yaitu Bahasa Indonesia. Yupz, sebentar lagi akan saya coba jelaskan kenapa anak ingusan (ingus yang sebenarnya)--> 'saya waktu itu' bisa berpikiran seperti itu.
Sejujurnya dalam pikiran saya waktu itu, keadaan yang saya alami itu seperti ini (saking naifnya) : bahwa sebenarnya kita semua itu sudah bisa berbahasa Indonesia sejak lahir, buktinya waktu TK kita tidak diajari bahasa Indonesia, tapi waktu Bu Gurunya nanya "Anak-anak sudah makan semua?" Semua serempak bisa menjawab dengan sempurna dalam Bahasa Indonesia "Sudah Bu Guru!!!" (Masih belum sadar kalo menerima pembelajaran bahasa Indonesia secara lisan).
Begitu masuk SD, keadaan menjadi agak berbeda. Ketika kegiatan menjadi lebih serius dengan diperkenalkannya buku garis tiga dan kita diajarkan cara menulis halus. Waktu itu, pelajaran bahasa Indonesia adalah pelajaran untuk berlatih menyalin huruf per huruf, tulisan per tulisan, kata per kata sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Ibu Guru. Jangankan satu paragraf, beberapa kata aja mungkin butuh waktu sama dengan setengah episode Ksatria Baja Hitam. Lama boz. Ketika saya sudah agak menguasai untuk menulis kata-kata, naik ke kelas 2 apa 3 itu saya kurang ingat levelnya dinaikkan. The next level, kita tidak hanya menyalin, tapi ditantang untuk menulis apa yang kita pikirkan. Saat itulah ketemu pas ulangan umum yang namanya mengarang, membuat suatu karangan cerita yang kadang-kadang judulnya sudah ditentukan atau minimal temanya yang sudah ditentukan. Wah, ini bagi saya pekerjaan berat, bayangkan di hari sebelum ulangan umum bahasa Indonesia, saya mengira-ngira judul apa yang harus saya tulis besok saat ujian mengarang. Biasanya juga, ujian mengarang didahului dengan menjawab soal-soal teori, jadi kadang kebawa tuh pas kerjakan soal teori kepikiran mau nulis apa pas mengarang :D
Dan lucunya lagi, pada mengerjakan karangan itu, sebagian besar (baca semua-red) anak di kelas kami berpikir, bahwa nilai dari mengarang itu ditentukan oleh banyak atau sedikitnya kalimat yang tersusun dalam paragraf yang dihasilkan. Jadilah waktu itu kompetisi menulis dalam lembar terbanyak :) ya dikit-dikit liat dari kejauhan teman-teman yang nulisnya uda 2 lembar halaman polio uda bikin keder juga.
Ketika naik tingkat lagi, saya diperkenalkan lagi dengan berbagai macam bentuk pengetahuan baru dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Puisi, prosa, gaya bahasa, kata majemuk, membuat kalimat, lawan kata, sinonim, antonim, dll, dsb, dst.... Pelajaran Bahasa Indonesia makin menjadi sesuatu yang tak pasti. Ketika ulangan umum soalnya muncul dalam pilihan ganda, umumnya saya memilih jawaban yang paling panjang :D
Kadang-kadang jawabannya seperti tidak pasti, tapi kadang juga dibutuhkan jawaban yang pasti layaknya Aljabar. Belum lagi saat ujian gitu kita dikasi paragraf panjang, trus dikasi pertanyaan yang jawabannya ada dalam paragraf tersebut, menentukan majas, menentukan antonim atau sinonim, singkatan, membahas sajak yang digunakan pantun atau syair dan masih banyak lagi. Saat itu pelajaran bahasa Indonesia cukup aneh bagi saya.
***
Saat menulis tulisan ini, saya sadari saya masih sangat tergantung pada pelajaran Bahasa Indonesia. Ternyata memang sampai kapan pun kita tak akan bisa lepas dari pelajaran ini, pemahaman saya pun terhadap Bahasa Indonesia masih sangat kurang. Elemen penting dalam memahami semua pelajaran yang kita tempuh sebenarnya juga sangat ditentukan kemampuan kita dalam Berbahasa Indonesia. Ingin mendalami Ilmu Pasti sudah pasti harus bisa Bahasa Indonesia, minimal baca lah, kan literaturnya ditulis dalam bahasa Indonesia (kecuali uda jago bahasa asing), khusus untuk di Indonesia, sebagian besar ilmu-ilmu lain selain bahasa Indonesia juga disampaikan dalam bahasa Indonesia kan. Bayangkan saja kalau kita tidak mengerti tentang hal yang mendasar semacam menentukan kalimat utama, tentunya susah juga memahami (mengambil inti) dalam sebuah paragraf/tulisan yang membahas disiplin ilmu lain. Kalau tidak menangkap intinya tentunya proses pemahaman akan menjadi lebih lambat.
Kebutuhan akan bahasa Indonesia juga semakin mengikat ketika masuk ke dunia kerja baik secara lisan maupun tulisan. Bagi para pegawai yang memiliki atasan, tentu terselamatkan oleh Bahasa Indonesia yang mengajarkan mereka bagaimana seharusnya pilihan kata yang harus digunakan saat berkomunikasi lisan dengan atasan, rekan sejawat, maupun bawahan. Yang gak tahu bahasa Indonesia akan keliatan aneh sendiri nyapa boznya di kantor "Wasssup bro. You've got SWAG"...:D. Yang tidak kenal majas akan lempeng-lempeng aja ketika disindir dengan majas sarkasme dalam lisan kawan-kawannya (cieh nyebut sarkasme... ) Secara tulisan pun lebih vital, saat berkomunikasi secara tulisan dengan relasi/entitas lain, tentunya akan menjadi hal yang ganjil bila untuk persuratan saja masih kacau balau. Saya sudah mengalami sendiri realitanya, kadang untuk membuat sebuah konsep surat yang 'bisa memuaskan' hasrat atasan perlu menggali lagi ingatan-ingatan lampau saat belajar bahasa Indonesia di SD-Kuliah. Memikirkan sesuatu dalam benak kita sendiri tentu akan mudah kita pahami sendiri, tapi menuangkan hal yang kita pikirkan baik secara lisan maupun tulisan kepada orang lain dengan tujuan agar bisa disampaikan apa yang kita pikirkan itu?! Kita memerlukan keajaiban bahasa (Indonesia).
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Sejujurnya dalam pikiran saya waktu itu, keadaan yang saya alami itu seperti ini (saking naifnya) : bahwa sebenarnya kita semua itu sudah bisa berbahasa Indonesia sejak lahir, buktinya waktu TK kita tidak diajari bahasa Indonesia, tapi waktu Bu Gurunya nanya "Anak-anak sudah makan semua?" Semua serempak bisa menjawab dengan sempurna dalam Bahasa Indonesia "Sudah Bu Guru!!!" (Masih belum sadar kalo menerima pembelajaran bahasa Indonesia secara lisan).
Begitu masuk SD, keadaan menjadi agak berbeda. Ketika kegiatan menjadi lebih serius dengan diperkenalkannya buku garis tiga dan kita diajarkan cara menulis halus. Waktu itu, pelajaran bahasa Indonesia adalah pelajaran untuk berlatih menyalin huruf per huruf, tulisan per tulisan, kata per kata sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Ibu Guru. Jangankan satu paragraf, beberapa kata aja mungkin butuh waktu sama dengan setengah episode Ksatria Baja Hitam. Lama boz. Ketika saya sudah agak menguasai untuk menulis kata-kata, naik ke kelas 2 apa 3 itu saya kurang ingat levelnya dinaikkan. The next level, kita tidak hanya menyalin, tapi ditantang untuk menulis apa yang kita pikirkan. Saat itulah ketemu pas ulangan umum yang namanya mengarang, membuat suatu karangan cerita yang kadang-kadang judulnya sudah ditentukan atau minimal temanya yang sudah ditentukan. Wah, ini bagi saya pekerjaan berat, bayangkan di hari sebelum ulangan umum bahasa Indonesia, saya mengira-ngira judul apa yang harus saya tulis besok saat ujian mengarang. Biasanya juga, ujian mengarang didahului dengan menjawab soal-soal teori, jadi kadang kebawa tuh pas kerjakan soal teori kepikiran mau nulis apa pas mengarang :D
Dan lucunya lagi, pada mengerjakan karangan itu, sebagian besar (baca semua-red) anak di kelas kami berpikir, bahwa nilai dari mengarang itu ditentukan oleh banyak atau sedikitnya kalimat yang tersusun dalam paragraf yang dihasilkan. Jadilah waktu itu kompetisi menulis dalam lembar terbanyak :) ya dikit-dikit liat dari kejauhan teman-teman yang nulisnya uda 2 lembar halaman polio uda bikin keder juga.
Ketika naik tingkat lagi, saya diperkenalkan lagi dengan berbagai macam bentuk pengetahuan baru dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Puisi, prosa, gaya bahasa, kata majemuk, membuat kalimat, lawan kata, sinonim, antonim, dll, dsb, dst.... Pelajaran Bahasa Indonesia makin menjadi sesuatu yang tak pasti. Ketika ulangan umum soalnya muncul dalam pilihan ganda, umumnya saya memilih jawaban yang paling panjang :D
Kadang-kadang jawabannya seperti tidak pasti, tapi kadang juga dibutuhkan jawaban yang pasti layaknya Aljabar. Belum lagi saat ujian gitu kita dikasi paragraf panjang, trus dikasi pertanyaan yang jawabannya ada dalam paragraf tersebut, menentukan majas, menentukan antonim atau sinonim, singkatan, membahas sajak yang digunakan pantun atau syair dan masih banyak lagi. Saat itu pelajaran bahasa Indonesia cukup aneh bagi saya.
***
Saat menulis tulisan ini, saya sadari saya masih sangat tergantung pada pelajaran Bahasa Indonesia. Ternyata memang sampai kapan pun kita tak akan bisa lepas dari pelajaran ini, pemahaman saya pun terhadap Bahasa Indonesia masih sangat kurang. Elemen penting dalam memahami semua pelajaran yang kita tempuh sebenarnya juga sangat ditentukan kemampuan kita dalam Berbahasa Indonesia. Ingin mendalami Ilmu Pasti sudah pasti harus bisa Bahasa Indonesia, minimal baca lah, kan literaturnya ditulis dalam bahasa Indonesia (kecuali uda jago bahasa asing), khusus untuk di Indonesia, sebagian besar ilmu-ilmu lain selain bahasa Indonesia juga disampaikan dalam bahasa Indonesia kan. Bayangkan saja kalau kita tidak mengerti tentang hal yang mendasar semacam menentukan kalimat utama, tentunya susah juga memahami (mengambil inti) dalam sebuah paragraf/tulisan yang membahas disiplin ilmu lain. Kalau tidak menangkap intinya tentunya proses pemahaman akan menjadi lebih lambat.
Kebutuhan akan bahasa Indonesia juga semakin mengikat ketika masuk ke dunia kerja baik secara lisan maupun tulisan. Bagi para pegawai yang memiliki atasan, tentu terselamatkan oleh Bahasa Indonesia yang mengajarkan mereka bagaimana seharusnya pilihan kata yang harus digunakan saat berkomunikasi lisan dengan atasan, rekan sejawat, maupun bawahan. Yang gak tahu bahasa Indonesia akan keliatan aneh sendiri nyapa boznya di kantor "Wasssup bro. You've got SWAG"...:D. Yang tidak kenal majas akan lempeng-lempeng aja ketika disindir dengan majas sarkasme dalam lisan kawan-kawannya (cieh nyebut sarkasme... ) Secara tulisan pun lebih vital, saat berkomunikasi secara tulisan dengan relasi/entitas lain, tentunya akan menjadi hal yang ganjil bila untuk persuratan saja masih kacau balau. Saya sudah mengalami sendiri realitanya, kadang untuk membuat sebuah konsep surat yang 'bisa memuaskan' hasrat atasan perlu menggali lagi ingatan-ingatan lampau saat belajar bahasa Indonesia di SD-Kuliah. Memikirkan sesuatu dalam benak kita sendiri tentu akan mudah kita pahami sendiri, tapi menuangkan hal yang kita pikirkan baik secara lisan maupun tulisan kepada orang lain dengan tujuan agar bisa disampaikan apa yang kita pikirkan itu?! Kita memerlukan keajaiban bahasa (Indonesia).
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Langganan:
Postingan (Atom)