Selasa, 01 Februari 2011

Jalan Beraspal Tanpa Bangkai Hewan Liar

Suatu saat pernah terlintas pemikiran ini……..

Secara tak sengaja, saya pernah memperhatikan kondisi jalan di kampung halaman di Denpasar dengan kondisi jalanan di kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Jalanan yang saya maksud adalah jalan raya berlapis aspal, terutama jalan-jalan arteri yang notabene kondisinya bagus, aspalnya kelihatan rata, halus, tanpa lubang, marka jalannya lengkap dan lebar. Tentunya dengan perkecualian jalanan beraspal yang kondisinya masih memprihatinkan dengan bopeng dan lubang-lubang mengangga yang kalau kita kurang waspada sungguh memberikan ketidaknyamanan dalam berkendara. Tapi bukan hal itu yang menjadi perhatian saya, ada satu hal lain yang lebih menarik perhatian saya bila dibandingkan dengan jalan beraspal di tempat lain khususnya jalan beraspal di kampung halaman. Mungkin sebenarnya memang memang terlalu jauh perbandingannya antara jalan di kota besar dengan jalan yang ada di desa, tapi menurut pengamatan saya, aspal jalan depan rumah lumayanlah, masih rata dan nyaman untuk dilewati. Walaupun terletak di pinggiran kota Denpasar, desa kami lumayan modernlah (narsis dikit…).

Kamis, 30 Desember 2010

Pantai Watu Ulo - Jember



Beberapa waktu yang lalu, tepatnya saat saudara-saudara kita umat Kristiani merayakan damainya Natal, 25 Desember 2010, saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah pantai yang berada di wilayah Jember, Jawa Timur yang bernama Pantai Watu Ulo. Menurut pemahaman saya terhadap Bahasa Jawa (yang masih termasuk level "Dummy" or "Basic", itu pun lebih banyak bahasa Suroboyoan..hehehehe...) Watu Ulo terdiri atas dua kata. Watu yang berarti Batu dan Ulo yang berarti Ular, sekelumit pemikiran sempat muncul di kepala saya, "Batu ular??" kenapa dinamakan seperti itu ya?? Pertanyaan ini terus menggelantung di pikiran saya selama perjalanan selama 1,5 jam dengan mobil yang dimulai dari Jalan Gajah Mada kota Jember. Jalan menuju ke pantai ini melewati kawasan yang hijau dan agak masuk ke dalam, dan saya benar-benar tidak menyangka jalan yang saya lewati ini akan menuju ke pantai. Mungkin terpengaruh mendung dan sedikit rintik hujan, seolah saya merasakan akan memasuki kawasan pegunungan yang sejuk. (Padahal udah jelas-jelas sedang menuju ke arah pantai...saya emang agak GeJe...)

Rabu, 29 Desember 2010

Semoga Ini Menjadi Sebuah Awal Bagi Tim Garuda

Pertandingan Final Piala AFF hari ini sungguh memainkan emosi dan perasaan saya. Apalagi setelah Malaysia berhasil membobol gawang Markus Haris Maulana melalui skema serangan balik yang cepat dengan memanfaatkan celah pertahanan Indonesia yang menguasai ball possesion dan asyik membangun serangan. Gol itu serasa membuat isi perut saya bercampur aduk antara geram, marah, kecewa, benci, pokoknya semua jadi satu. Striker Malaysia bertubuh gempal bernomor 10, Safee ini memang pantas disebut sebagai "striker yang liat", bertubuh gempal tetapi memiliki kecepatan. Pergerakannya hampir selalu membuat lini belakang Indonesia selalu kerepotan.

Pagi, 29 Desember 2010

Hari ini pertandingan leg kedua final piala AFF 2010 melawan Malaysia akan dilaksanakan di Gelora Utama Bung Karno. Begitu banyak spekulasi dan konspirasi yang berkembang tentang Timnas Indonesia yang sedikit banyak akan mempengaruhi pertandingan nanti. Kekalahan 3-O di Bukit Jalil, Malaysia seharusnya memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi Tim Garuda kita. Dalam situasi seperti ini, kesiapan mental sepertinya akan sangat menentukan hasil pertandingan nanti.Target untuk menciptakan margin 4 gol bila ingin meraih trofi pertama piala AFF semoga tidak menjadi beban bagi para pemain. Saya percaya, sebenarnya timnas kita tidak kalah kualitas dengan tim Malaysia, hanya saja dalam sepak bola, faktor skill & kualitas tidak selalu menjadi jaminan utama untuk meraih kemenangan.

Semoga Firman Utina, CS dapat menemukan form permainan terbaiknya, mengubah tekanan menjadi hantaman bagi Malaysia, bagaimanapun hasil kemenangan yang diraih dari babak penyisihan sampai final harus tetap kita apresiasi. Dan akhirnya, apapun hasil dari pertandingan nanti, kita harus tetap bangga dan mendukung timnas kita. Semoga di masa depan tim Garuda akan menjadi lebih baik lagi...

Kepakkan Sayapmu Lagi Wahai Garuda....

Kamis, 23 Desember 2010

Andai Boas Ikut Menikmati Sukses Timnas

Bulan Desember 2010 ini seolah menjadi bulan milik timnas. Tentunya akan terasa lebih sempurna lagi kalau Indonesia bisa memetik gelar juara AFF 2010, sudah terlalu lama Tim Garuda mengalami paceklik gelar dalam ajang sepak bola tingkat ASEAN.

Tidak bisa dipungkiri, tangan dingin Alfred Riedl ikut berperan dalam membawa kesuksesan Garuda melangkah ke fase final Piala AFF 2010. Keberaniannya untuk mengatur, menentukan sendiri pemain-pemain yang menurutnya layak memakai kostum dengan lambang garuda di dada tanpa intervensi siapa pun tampaknya membawa hasil yang cukup memuaskan bagi timnas sampai saat ini. Kejeliannya membuat kerja keras pemain-pemain muda semacam Okto dan Irfan Bachdim tidak sia-sia, kira-kira dua pemain itulah yang memperoleh kesempatan emas dan berhasil membuktikan diri dalam era kepelatihan Alfred Riedl.

Sementara dalam benak saya, masih terpaku pada sosok Boas yang akhirnya tidak ikut serta membela timnas. Meskipun dalam hati saya dapat memahami keputusan Alfred Riedl untuk tidak memanggil Boas untuk ikut membela Sang Garuda dalam ajang yang bergengsi ini, namun tetap saja saya tidak bisa mengesampingkan hal-hal yang mungkin bisa terjadi seandainya Boas bisa ikut menikmati Piala AFF ini.