Jumat, 03 Januari 2020

Senyum Mat Ole

Hal terbaik dari Mat Ole adalah senyumnya itu. Dalam keadaan apa pun, susah, senang, sedih, Mat Ole selalu tersenyum. Tetangga-tetangganya kadang heran. Padahal Mat Ole bukan orang Bali, setiap kejadian buruk yang menimpanya selalu tetap memiliki alasan untuk tetap tersenyum dan bersyukur.

Luar biasa memang Mat Ole ini.

Tahun ini hujan datang terlambat, sama terlambatnya dengan Mat Ole mereparasi atap rumahnya. Banjir pun datang, air naik setinggi pahanya, rambutnya yang ubanan basah oleh air hujan yang meluncur tanpa halangan dari atap rumahnya yang memang sudah bocor. Mat Ole tetap tersenyum. Kata dia, “Sabar, tahun ini pertanda baik. Semua usaha sebenarnya sudah saya lakukan, minimal waktu itu sudah ada niat saya beli genteng baru, beli rusuk baru untuk perbaiki tulang atap yang lapuk. Saya sudah ada niat kok.”

Tetangganya Pak Dirjo yang orang Solo jadi heran. “Lah ya kok gitu sih, Mat Ole ini.” Berhubung dia juga orangnya sabar, hari itu Mat Ole ditampung di rumahnya yang sebenarnya juga kebanjiran, hanya atapnya tidak bocor.

“Lah saya tak enak hati ini jadinya”, kata Mat Ole. Tentunya sambil bersyukur dalam hatinya tidak terendam dan kehujanan lagi di dalam rumahnya. Lagi-lagi Mat Ole tersenyum dengan senyum khasnya, Pak Dirjo yang awalnya mau ngomong sesuatu jadi mengurungkan niatnya bicara.

“Weis ta lah. All is well,” kata Pak Dirjo dalam hati mengutip tokoh idolanya, Ranchodas dari film Three Idiots.

Pernah juga Mat Ole ditipu orang saat mau menjual sawahnya. Sawahnya ditawar makelar yang mengaku bisa menghubungkannya dengan seorang pebisnis terkenal dari Surabaya, tentunya dengan komisi yang tidak terlalu memberatkan, dijamin akan laku dan sawah Mat Sole siap dibangun untuk lokasi perumahan baru nan indah. Sebenarnya waktu itu Mat Ole agak-agak khawatir karena tanah sawahnya termasuk jalur hijau kota, tapi berkat argumen yang cukup kuat dari makelar yang mengatakan “itu sekarang semua sudah bisa diatur”, Mat Ole saat itu dengan senyum khasnya berjabat tangan erat dengan sang makelar.

Tak lama, sang makelar masuk penjara karena penggelapan sertifikat tanah. Si pebisnis ngamuk dan melaporkan sang makelar ke polisi. Saat ini sang makelar sedang menghadapi proses persidangan di meja hijau.

Banyak orang yang kasihan dengan Mat Ole, banyak juga yang marah. Lah kok segitunya jadi orang, manut dan senyum saja. Tetangga yang ukurannya sudah berumur sering menasihati Mas Ole, ya jadi orang boleh baik, ya tapi jangan segitunya juga baik plus lugu berisi manutnya. Gampang sekali dimanfaatkan orang.

Mat Ole lagi-lagi dengan gaya khasnya, tersenyum saja mendengarkan nasehat itu. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, yang jelas senyum itu tak henti berkembang dari bibirnya yang kini tampak mengering.

Minggu, 17 November 2019

Cocoklogi

Pak Djarot termenung cukup lama melihat berita tentang para selebritis yang tiba-tiba ditodong untuk menunjukkan saldo kartu ATM-nya. Kelihatannya seperti ditodong, tapi dari gelagatnya seperti pamer.
"Kok ya mau. Di Indonesia bukannya lagi ramai sindikat pembobol mesin ATM. Apa tidak takut nanti sindikat itu menonton youtubenya terus malah dibuatkan duplikat ATM-nya. Toh saldonya sudah ketahuan, bahkan ada miliaran untuk satu kartu ATM, sasarannya menjadi jelas dan terukur." gumam Pak Djarot dalam hatinya.

Terbayang oleh Pak Djarot, saldo tabungannya sendiri, penuh keikhlasan karena habis menambah kapasitas tandon air rumahnya yang katanya terlalu kecil. Padahal PDAM-nya yang sudah seminggu ini mati. Pak Djarot merasa tertipu. Lembaran buku tabungannya mungkin lebih tebal daripada isi tabungannya kalau ditumpuk lalu dibandingkan secara berjajar.

Selain tentang saldo tabungannya, Pak Djarot juga sebenarnya sedang kepikiran dengan kata-kata motivator yang didengarnya sepintas lalu saat menyetrika baju istrinya di malam Senin yang panas karena musim hujan yang tak kunjung datang, di bulan November ini.
"Semesta ini saling berhubungan, selalu ada alasan dan akibat dari setiap peristiwa dalam hidup.."
Sepintas kata-kata dari sang motivator terngiang lagi di telinga Pak Djarot.

Tadi malam Pak Djarot bermimpi, rupanya ada seorang youtuber sekonyong-konyongnya datang ke tempat kerja Pak Djarot menodongnya untuk mengecek saldo tabungan melalui kartu ATM-nya.
"Tapi di sini tidak ada mesin ATM lho ya", kata Pak Djarot dengan yakin.

Entah dari mana tiba-tiba sang youtuber terkenal membuka lemari kayu di ruangan kerja Pak Djarot, ajaib di dalamnya ada mesin ATM. Pak Djarot berusaha tetap tersenyum. Senyumnya pahit.
"Silakan Pak Djarot, sebagai seorang pegawai teladan, biar para netijen tahu berapa saldo tabungan milik seorang Pegawai kantoran."

Dengan agak ragu dan sebenarnya sangat terpaksa Pak Djarot, setelah memasukkan kartunya, enam digit nomor PIN-nya ke mesin ATM.
Pencet-pencet 'INFORMASI SALDO'

Rp 1.200.006.478,00

Pak Djarot terkejut, langsung terbangun dengan keringat dingin.

****


Pada hari Senin sore harinya, tidak seperti biasanya. Pak Djarot bertandang ke rumah Mat Kebo. Rumah Mat Kebo selalu ramai oleh orang-orang dan semuanya berbisik-bisik melihat kedatangan  Pak Djarot.

Pak Djarot cuek ajak menyalami Mat Kebo. Dalam genggamannya ada sejumlah rupiah yang dilipat sedemikian rupa.

Mat Kebo berbasa-basi busuk, "Tumben nih Pak. Ada apa ya?"

Pak Djarot langsung berbisik. Dekat sekali ke telinga Mat Kebo.
"Saya pasang empat nomor 6478. Makasi ya."

****