Senin, 18 Februari 2019

Ide = Seongok Kayu



Ide adalah sesuatu yang sangat berharga. Menjadi awal untuk membuat sebuah tulisan. Kita tidak usah menilai tentang hasilnya, tetapi dalam pikiranku, sebuah tulisan harus didasari oleh sebuah ide. Ide, baik atau buruk tetaplah ide. Seorang penulis yang sedang memiliki ide tidak akan menyia-nyiakan idenya itu, segera dituangkan sebelum lupa atau mengalami perubahan. Pada saat proses pengembangan ide nantinya akan mengalami penambahan atau pengurangan. Sah-sah saja, layaknya seorang pematung, ide adalah seongok kayu yang bagus untuk dibuat patung. Tidak mudah menemukan kayu yang bagus dan siap untuk dibuat menjadi patung. Layaknya pematung yang akan melakukan penambahan maupun pengurangan pada kayu yang akan dijadikannya patung, kurang lebih seperti itulah penulis meramu ide yang sudah didapatnya untuk dituangkan dalam tulisan yang sesuai dengan konsep yang ingin dibuatnya.
Ide adalah satu hal, mengolah ide menjadi tulisan yang baik adalah hal lainnya. Bahan kayu yang bagus bisa saja menjadi sia-sia di tangan pematung yang kurang cakap.
Tapi itu bukanlah persoalan utama. Yang paling utama adalah si pematung tetap bekerja dan belajar. Patung yang jelek tetaplah hasil karya. Patung yang jelek akan menjadi masalah kalau hal itu membuat si pematung berhenti berkarya.

Senin, 09 Juli 2018

MENULIS = MENGGAMBAR ?!



Menulis hampir mirip dengan menggambar. Menulis merangkai kata, menggambar merangkai bentuk, sama-sama ingin menyampaikan sesuatu, sama-sama berasal dari imajinasi dan pemikiran kita. 
Pada dasarnya, tidak ada penilaian baik-buruk, bagus-jelek karena setiap tulisan atau gambar mewakili imajinasi dan pemikiran penulis atau penggambar yang belum tentu bisa ditangkap oleh pembaca atau yang melihat gambarnya.
Mungkin tulisan atau gambar yang tidak kita sukai, menurut kita tidak sesuai, aneh hanya sedang menunggu waktu untuk dimengerti. Entah kapan.



Sabtu, 23 Juni 2018

PENGALIH NYERI

Entah karena luka ini, nyeri hasil operasi di tulang acromioclavicular membuat kembali tangan ini meraih pensil mencorat-coret lagi.

Rasa nyerinya tidak hilang, hanya teralihkan sebentar. Tak mengapa, hanya sebentar semoga selanjutnya membawa lelah dan kantuk.

Senin, 13 November 2017

CERITA SEBELUM TIDUR


Kembali teringat antara 19-20 tahun yang lalu, saat aku masih kecil. Ibu selalu bercerita sebelum aku terlarut dalam tidur di pelukannya. Beberapa cerita dari beliau masih terpatri sampai sekarang dalam ingatanku. Kebanyakan tentang cerita tradisional di Bali, dan saat itu aku selalu merajuk untuk selalu diceritakan kisah-kisah sebelum tidur itu walaupun cerita yang sama selalu diulang-ulang oleh Beliau. Sekarang, setelah aku ingat-ingat kembali, ternyata cerita-cerita tradisional Bali memiliki sisi keunikan tersendiri baik dari segi penokohan, alur, maupun gaya berceritanya terutama dalam cerita-cerita pengantar tidur saat aku masih kecil dulu. Kebanyakan cerita-cerita tersebut berupa fabel yang tokoh utamanya adalah binatang seperti : I Lutung (kera), I Kekua (kura-kura), Siap Selem (ayam hitam), Ketam (kepiting sungai), Macan, ataupun Meng Kuwuk (kucing). Namun tidak semua tokoh cerita dalam cerita tradisional Bali adalah binatang seperti salah satu tokoh cerita yang namanya sangat melegenda di Bali, Pan Balang Tamak. Berikut ini akan aku coba ceritakan kembali cerita yang biasa didongengkan oleh ibu sebagai pengantar tidur saat kecil dulu (mungkin berbeda versi cerita di tiap tempat, tapi versi inilah yang kudengar dari ibuku) :
I Lutung dan Kekua 
Pada suatu saat di sebuah hutan, I Lutung hanya termenung sendiri di atas pohon yang tampaknya sudah tidak berbuah lagi. Dia tampak bingung sendiri, entah musim apa saat itu yang telah membuat pohon-pohon buah yang menjadi sumber makanannya di hutan itu selama ini banyak yang tidak berbuah. Pohon yang dia naiki sekarang mungkin adalah pohon yang terakhir yang berbuah, karena dia sudah berkeliling sejak pagi untuk mencari pohon-pohon lain yang masih berbuah tetapi hasilnya nihil. Pohon itu terletak tepat di pinggir sungai, dari atas pohon itu, si Lutung dapat melihat di seberang sungai sana ada perkebunan milik Pak Tani yang pohon pisangnya sedang berbuah ranum. Bukan sekali ini Si Lutung menyadari ada makanan favoritnya di sana, cuma dia masih bingung mencari cara untuk sampai di seberang sungai itu. Air adalah sesuatu yang sangat Lutung hindari, sungguh serasa mustahil baginya untuk berenang menyeberangi sungai itu menuju pisang-pisang ranum   Pak Tani.

Selasa, 10 Oktober 2017

HUJAN BULAN OKTOBER



Bulan Oktober sudah tiba. Seperti umumnya bulan-bulan yang berakhiran -ber hujan pun makin sering turun setiap harinya. Hujan bulan Oktober tidak sejarang bulan sebelumnya dan tidak segarang bulan-bulan setelahnya. Ada kehangatan diantara titik-titik airnya yang dingin saat menghujam bumi menghamburkan harumnya bau tanah.
Hujan bulan Oktober yang turun di pagi hari, derunya selalu membangunkanku dari tidur yang lelap hanya untuk menidurkanku kembali seperti seorang ibu menepuk-nepuk lembut punggung anaknya agar tidur lebih lelap lagi. Kala dia datang di malam hari, hujannya yang tenang tanpa petir menjadi lagu pengantar tidur tanpa lirik yang memanduku ke mimpi yang indah.
Hujan bulan Oktober saat langit masih terang oleh mentari akan melukis pelangi sejelas selendang sutera berbagai warna yang tergantung di kolong langit.
Ketika dia turun saat terangnya bulan purnama, mendungnya yang tipis akan menutup rembulan namun aku masih bisa melihat siluet bentuk lingkaran putih tampak malu yang terbungkus titik-titik air hujan yang turun dengan perlahan.
Pernah kudengar cerita tentang hujan bulan Oktober ini, dari seorang kakek yang tak kuketahui namanya. Kata Beliau, bulan Oktober itu bertepatan dengan dimulainya sasih Kapat (sesuai dengan perhitungan kalender Bali) adalah bulan penuh cinta. Alam merayakan cintanya pada kita dengan memberi hujan yang indah. Hujan yang mulai membangunkan pohon-pohon yang meranggas dan menguatkan tunas-tunas muda yang baru saja tumbuh. Cintanya kadang berbentuk rasa lelah dan sakit yang mengajak kita untuk beristirahat sejenak dan kita memang berhak untuk berhenti sejenak, menikmati desiran air hujannya. Dia mengingatkan dengan sabar bahwa perubahan cuaca juga akan mempengaruhi tubuh manusia yang menyebabkan kita menjadi rentan terhadap penyakit.
Bagiku, kita semua adalah anak hujan, yang akan selalu merindukannya saat penat dan panas mulai menyergap.